This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Dunia Nyata. Show all posts
Showing posts with label Dunia Nyata. Show all posts

ISU CROP CIRCLE MAKAN KORBAN

http://www.jpnn.com/picture/thumb/20110126_102735/102735_3773_crop_cicle_HL2.jpg


SLEMAN- Antusiasme warga sekitar Jogjakarta untuk menyaksikan fenomena crop circle di area pesawahan dusun Rejosari, desa Jogotirto, kecamatan Berbah sangat tinggi. Ruas jalan masuk ke lokasi pun dijejali ratusan kendaraan bermotor pengunjung. Sayangnya, isu tentang pendaratan pesawat UFO yang tersebar cepat ke masyarakat itu harus menelan korban jiwa, kemarin (25/1).

Aldo,26, mahasiswa Universitas Proklamasi Jogjakarta tewas setelah terpeleset di gunung Suru dan terjatuh ke tebing setinggi lebih dari 10 meter. Saat kejadian, korban sedang menyaksikan garis-garis lingkaran yang disebut-sebut crop circle dari atas gunung batu setinggi sekitar 200 mdpl itu. Korban tewas seketika di tempat kejadian sekitar pukul 13.30 WIB. Diduga korban tewas setelah tubuhnya terbentur bebatuan. Informasi yang dihimpun Jawa Pos, saat korban terjatuh ke jurang cuaca sedang turun hujan deras disertai petir dan angin kencang. Beberapa batang pohon di sekitar lokasi crop circle roboh.

Saat itu Aldo dan teman-temannya tetap bertahan di atas gunung untuk melihat pola-pola lingkaran di pesawahan yang diduga crop circle itu. "Saat hujan dan ada peringatan petugas agar pengunjung tak naik bukit, kami baru saja sampai di atas. Karena itu kami rencana turun kalau hujan reda dan tetap berada di bukit," ungkap Asdo,25, salah satu teman korban.

Menurut Asdo, korban terjatuh lantaran kaget mendengar suara petir menyambar. "Dia kaget lantas terpeleset dan jatuh ke bawah," lanjutnya saat melaporkan musibah itu ke sekretariat layanan pengunjung crop circle yang terletak di bawah gunung Suru. Karena jasad korban tak terlihat dari atas, Asdo lantas berusaha menuruni bukit untuk melihat kondisi Aldo. Tapi korban diketahui sudah tak bernafas.

Hingga tadi malam jasad korban masih berada di lokasi kejadian. Sulitnya medan dan guyuran air hujan menyebabkan petugas tak bisa seketika mengevakuasi korban. Petugas menunggu tim SAR untuk mengevakuasi jenazah Aldo.(yog)

Benda Asing Disinyalir UFO Tertangkap Kamera Warga


GUNUNGKIDUL - Sebuah foto benda asing yang diduga gambar pesawat UFO (Unidentified Flying Object) tanpa sengaja tertangkap kamera seorang warga Kalasan, Kabupaten Sleman, Didit Widiatmoko yang juga salah seorang pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Gunungkidul.  Foto benda asing yang diambil sekitar sepekan dari penemuan crop circle di Dusun Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman diduga kuat tepat berada di langit kota Piyungan, Kabupaten Bantul.
 
Menurut Didit Widiatmoko foto benda asing tersebut ditangkap kameranya saat dia sedang mengambil gambar pemandangan di bukit Hargodumilah yang berbatasan antara kabupaten Bantul dan Gunungkidul.

“Semula saya tidak melihat, tapi begitu saya pindahkan ke komputer dan saya perbesar baru terlihat ada benda asing tersebut,” katanya Rabu (26/1) kemarin.

Dijelaskannya foto tersebut diambil pada hari Minggu (16/1) pada pukul 13.20 lalu. Dengan mengunakan kamera yang belum lama dibelinya itu, dia mencoba mengambil gambar pemandangan dari puncak bukit Hargodumilah sebagai kenang-kenagan. Namun dari sekian banyak foto yang diambil ada satu foto yang menunjukkan gambar benda aneh. Dan ketika diperbesar dengan mengunakan komputer nampak jelas gambar benda asing.

Dan ketika dia melihat berita dari media tentang penemuan crop circle dia mencoba mengkait-kaitkan dengan foto yang dimiliki. Namun begitu dia tidak berani berspekulasi dan memastika jika gambar yang dia miliki merupakan gambar UFO maupun bukan. “Saya belum yakin dan masih bertanya-tanya benda asing ini apa,” ujarnya.

Foto milik Didit ini pun menjadi pusat perhatian teman-teman sekantornya untuk melihat. Mereka yang melihat mencoba mengkait-kaitkan dengan penemuan crop circle di daerah Berbah, Sleman. Jika pun benar ini gambar UFO mereka menduga kemungkinan pesawat luar angkasa itu melakukan survey sebelum mencari daerah pendaratan. (gng/Radar Jogja)

CROP CIRCLE DI BANTUL BUATAN MANUSIA


BANTUL -- Fenomena aneh crop cricle ditemukan didusun Wanujoyo Kidul, Srimartani, Piyungan, Bantul. Sawah yang didapati ada fenomena aneh itu milik beberapa orang petani, diantaranya, Bapak Asrori, Bapak Gandung, Bapak paryono, dan Bapak Banjarsari.

Sebelum menggegerkan warga dan sekitarnya, fenomena menyeluruh itu dilihat pertama kali oleh Harjono yang sedang mencari rumput untuk pakan ternak di sekitar sawah itu Selasa (25/1) pukul 11.00 waktu setempat. Sebenarnya fenomena itu dilihat oleh Paryono (salah satu pemilik sawah) sudah terlihat 11 hari sebelum 26 Januari, tetapi masih belum berbentuk cricle.

Seperti yang dituturkan Paryono kepada wartawan, “Sebenarnya itu sudah saya lihat sebelas hari sebelumnya mas, tapi masih belum terlihat besar seperti sekarang, hanya sedikit padi yang rubuh”.

Dari hasil penelitian tim LAPAN bersama kepolisian pada hari Rabu (26/1), menyimpulkan bahwa fenomena ini bentuknya berbeda dengan yang ada didesa Jogotirto, Berbah, Sleman. Seperti yang dikatakan Sri Kaloka (peneliti dari tim LAPAN) ada beberapa kesimpulan dari hasil penelitian ini. Diantaranya, bentuk relief dari crop circle yang ada di Bantul berbeda dengan circle crop yang ada di Sleman.

"Di sini hanya ada basic cricle satu, semua jalur masuk pola pembuatan cricle berasal dari galengan tidak ada yang langsung dari tengah-tangah, ada satu cricle polanya persis sebuah lingkaran bentuk jari-jari tidak sama dari 1-2 meter, pada cricle ada bekas kaki manusia dan itu banyak, dapat dirasakan bekas-bekas kaki itu dengan rabaan di circle”, papar Sri Kaloka.

Dari peneliti tim LAPAN sendiri menyimpulkan bahwa fenomena crop circle ini buatan manusia. Hanya saja kurang sempurna, polanya masih berantakan. Dari kepolisian, tindak lanjut fenomena ini menurut Kapolsek Piyungan Kompol. Nurgiyanto, penelitian sudah selesai dan akan dibuka police line  kemarin siang. Masil menurut Kompol. Nurgiyanto, laporan dari warga pemilik sawah ini tergolong dengan pengrusakan hak milik, dan akan ditindak lanjuti sesegeranya.  (re-8)

POLISI KEJAR PEMBUAT CROP CIRCLE


SLEMAN - Polisi terus mengumpulkan bukti terkait dengan crop circle yang oleh Lapan dinyatakan sebagai buatan manusia. Kemarin (27/1) anggota identifikasi Polda DIJ melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi crop circle di Dusun Rejosari, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman.

Sebelumnya, anggota Polres Sleman bersama peneliti Batan, Bapeten, dan Lapan melakukan hal serupa. Menurut AKP Giyono, salah seorang petugas identifikasi, barang bukti yang dikumpulkan berupa sketsa foto di lokasi kejadian.

"Identifikasi kali ini untuk memastikan pola rebahan tanaman padi yang membentuk crop circle," jelasnya. Dia menambahkan, hasil sketsa foto tersebut nanti dikomparasikan dengan simbol yang terbentuk dalam crop circle.

Kapolres Sleman AKBP Irwan Ramaini menegaskan, pihaknya akan terus mengejar pembuat crop circle. "Kami akan terus mengusut kasus ini," ujarnya.Kapolsek Berbah Kompol I Made Muliawan menyatakan telah memeriksa tujuh petani yang sawahnya ketempatan crop circle. "Bisa jadi jumlah saksi bertambah," katanya.

Sementara itu, lokasi crop circle tetap mengundang rasa penasaran wisatawan. Meski Lapan menyatakan crop circle tersebut buatan manusia, ratusan orang tetap ingin melihat langsung pola-pola lingkaran di sawah milik tujuh warga setempat itu.

Larangan mendaki Gunung Suru yang telah memakan seorang korban tewas tak diindahkan pengunjung. Mereka nekat karena dari tempat itulah pola-pola crop circle bisa dilihat lebih jelas dan utuh. (yog/jpnn/c6/soe)

JEJAK KEHIDUPAN DI MARS KIAN NYATA


LOS ANGELES - Jejak kehidupan di Planet Mars kembali terlacak. Dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters, sejumlah ilmuwan Amerika Serikat (AS) meyakini pernah ada kehidupan di Planet Merah tersebut. Harapan bahwa planet tersebut layak dihuni, semakin terbuka lebar.

Harapan untuk hidup di Mars itu terbit dari Nili Fossae. Serpihan lapisan batu yang merupakan salah satu komponen penyusun permukaan Mars itu mengandung sisa-sisa fosil. Artinya, sekitar 4 miliar tahun lalu - setara dengan umur Nili Fossae - pernah ada kehidupan di planet tersebut. Para ilmuwan Search for Extraterrestrial Intelligence Institute (SETI) di California yakin, proses yang membuat fosil itu tersimpan dalam bebatuan Mars sama persis dengan proses yang terjadi di Bumi, yakni hydrothermal.

Adrian Brown, ilmuwan Institut SETI yang memimpin riset Nili Fossae itu memanfaatkan teknologi yang diadaptasi dari NASA. Piranti canggih tersebut bernama CRISM (Compact Reconnaissance Imaging Spectrometer for Mars). Dengan bantuan sinar inframerah yang ada pada alat itu, Brown lantas mempelajari kandungan mineral dalam Nili Fossae. Metode yang sama pernah digunakan untuk mempelajari batu mineral yang ditemukan di Pilbara, wilayah kering di barat laut Australia.

"Suhu di Pilbara cukup dingin. Bebatuan yang kami teliti itu merupakan bagian dari komponen awal penyusun Bumi yang sudah berumur sekitar 3,5 miliar tahun, sekitar tiga per empat usia Bumi," kata Brown dalam sebuah wawancara dengan BBC yang dipublikasikan kemarin (30/7). Dari Pilbara, lanjut dia, para ilmuwan bisa mempelajari hal-hal yang terjadi di Bumi pada tahap awal. Lewat cara yang sama, dia berharap bisa mempelajari kejadian-kejadian awal di Mars.

Saat mempelajari bebatuan Pilbara, para ilmuwan menemukan berbagai fosil mikroba di bebatuan tersebut. Konon, miliaran tahun yang lalu, mikroba-mikroba tersebut membentuk kehidupan awal di Bumi. Tepatnya, di bebatuan tersebut. Perwujudan mikroba-mikroba kuno itu disebut sebagai stromatolites. Memanfaatkan berbagai teknologi modern yang berkembang sekarang, stromatolites bisa dipelajari lebih jauh. Termasuk, bentuk dan strukturnya.

"Kehidupan membentuk makhluk-makhluk sederhana ini. Saya bisa membuktikannya dari struktur dan bentuk yang sudah kami pelajari. Struktur yang ada pada makhluk-makhluk ini hanya bisa diciptakan oleh kehidupan, bukan proses geologi," papar Brown. Berpijak pada kesamaan mineral pembentuk batu Pilbara dan Nili Fossae, dia yakin bahwa stromatolites yang hidup dalam bebatuan itu pun sama. Artinya, tahap awal kehidupan di Bumi pun terjadi di Mars.

Selain tersusun dari mineral yang sama, menurut Brown, lokasi ditemukannya Pilbara di Bumi dan Nili Fossae di Mars pun mempunyai cukup banyak kemiripan. Sama-sama gersang. "Semakin banyak lapisan yang tercetak di bebatuan tersebut, berarti jejak kehidupan itu semakin nyata. Sebab, mikroba-mikroba itu membutuhkan cukup waktu untuk membentuk stromatolites dan juga karang atau jenis hunian mikroba lainnya. Jika itu juga terjadi di Mars, berarti pernah ada kehidupan di sana," urainya.

Nili Fossae kali pertama diteliti pada 2008. Saat itu, para ilmuwan menemukan kandungan karbon dalam lapisan batu penyusun permukaan Mars tersebut. Temuan itu disambut gembira para ilmuwan Bumi. Sebab, mereka sudah sangat lama mencari jejak-jejak karbon di planet ke-4 dalam tata surya tersebut. Konon, karbon merupakan bukti awal bahwa pernah ada kehidupan di planet tersebut. Dari karbon lah kehidupan terbentuk.

Brown dan tim peneliti yang dia pimpin berharap bisa kembali ke Mars untuk lebih dekat menyelidiki Nili Fossae. Bebatuan itu sempat disebut-sebut sebagai landasan potensial bagi Mars Science Laboratory yang akan dibangun NASA di planet tersebut pada 2011 mendatang. Pakar geologi senior Brown University di Rhode Island, John Mustard, pun meyakini Nili Fossae sebagai landasan yang tepat. Tapi, Juni lalu, pendapat itu direvisi. Nili Fossae terlalu rapuh untuk dijadikan landasan.

Maka, pesawat ulang-alik yang sengaja dikirim untuk menjajaki Mars batal mendarat di Nili Fossae. "Pesawat itu mendarat di lokasi yang sangat jauh dari Nili Fossae dan tidak ada awak manusia yang dilibatkan. Kini, kita semua bergantung pada robot. Dan, itu sangat berbahaya," tandas Brown. Pasalnya, permukaan Mars sangat terjal dan berbatu. Robot yang diutus menyelidiki kondisi Mars itu bisa dengan mudah tergelincir dan jatuh. Jika itu terjadi, bahan penelitian akan ikut lenyap. (hep/ami/ito/jpnn)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites